Setelah 37 Tahun Tak Bertemu, Akhirnya Paidi Pulang ke Pangkuan Sang Ibu
Sosial

Setelah 37 Tahun Tak Bertemu, Akhirnya Paidi Pulang ke Pangkuan Sang Ibu

Eromoko, (wonogiri.sorot.co)--Setelah 37 tahun tak bersua, Paidi (55), warga Desa Puloharjo, Kecamatan Eromoko akhirnya bisa bertemu kembali dengan Tukinah, ibunya.

Saat ditemui sorot.co, Paidi mengatakan awal mula ia meninggalkan tempat tinggalnya lantaran pada tahun 1982 silam, desanya ada program transmigrasi atau bedol desa ke Bengkulu. Ia ikut dengan beberapa tetangganya untuk pergi merantau.

Pada saat itu, Paidi masih berusia 16 tahun. Di Bengkulu ia bekerja di ladang sebagai petani serabutan. Di sana ia telah berulangkali berpindah-pindah pekerjaan. Sempat merasakan upah yang hanya Rp 15.000 dalam sebulan.

Bekerja di tanah rantau, menurutnya tidak seenak yang dibayangkan dan diceritakan orang. Pahit getir kehidupan telah ia rasakan selama ini.

"Enam tahun pertama, seringkali saya merasakan kangen terhadap keluarga. Ingin rasanya pulang ke kampung, tapi dengan penghasilan saya yang tidak menentu membuat saya tidak bisa menyisihkan biaya untuk pulang," kata Paidi, Sabtu (09/09/2017).

Setelah 37 tahun tak bertemu keluarga, Paidi yang sempat dikabarkan hilang dan meninggal. Akhirnya beberapa hari lalu ia bisa kembali bertemu dan berkumpul dengan keluarganya berkat bantuan dari Ustadz Muzamil. 

Mulanya Paidi tak menyangka dapat kembali ke bumi kelahirannya, seakan tak percayya setelah 37 tahun tidak pulang, ia bisa bertemu dengan keluarganya.

"Baru pertama kali saya meneteskan air mata ya saat kemarin saya sampai sini. Ibu saya berubah yang dulu masih seger sekarang berubah terlihat sangat tua, dengan keriput diseluruh tubuhnya, kurus dan sudah sedikit pikun. Sementara keluarga saya juga banyak yang berubah. Sempat saya tidak percaya bahwa saya sampai di tanah kelahiran," lanjutnya.

Beberapa hari di kampungnya, anak keempat dari Tukinah tersebut menyambangi tempat-tempat yang dulu pada waktu remaja seringkali ia gunakan untuk bermain dengan teman-temannya. Menurutnya semua masih sama. Ia ingat betul momen-momen bersama teman dan keluarga.

Sementara Tukinah ibu Paidi, merasa sangat bahagia lantaran sekarang ini 5 anaknya sudah berkumpul kembali. Ia mengaku tidak memperbolehkan Paidi merantau kembali. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya, ia meminta Paidi untuk tetap tinggal di kampung.

"Kulo matur nuwun sanget anak kulo saget wangsul ten ndeso. Ati kulo saniki sampun tentrem. (Saya terima kasih banyak anak saya sudah pulang ke desa. Hati saya sudah tentram)" kata Tukinah sembari menangis.

Saking bahagianya, setiap saat Tukinah selalu nembang (bernyanyi) dengan bahasa Jawa yang intinya mengatakan anak laki-lakiku sudah pulang, dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya. Meskipun sudah berumur lebih dari 80 tahun dan dengan keterbatasan pendengaran, sebisa mungkin ia melayani anaknya lantaran kerinduannya yang begitu mendalam.