Mengaku Dirayu, Kakek Pemerkosa Terpaksa Berbuat Anu
Hukum & Kriminal

Mengaku Dirayu, Kakek Pemerkosa Terpaksa Berbuat Anu

Jatipurno, (wonogiri.sorot.co)--Mungkinkah seorang gadis ingusan kelas I SMP atau kelas VII merayu kakek dua orang cucu berusia 62 tahun untuk bersetubuh. Di jaman sekarang dengan segala dukung kerusakan moral yang ada, boleh jadi orang mengatakan hal itu mungkin terjadi jika kakek-kakek bersangkutan kaya raya dan berwajah tampan.

Di lain pihak SG (62), warga Kecamatan Jatipurno ini tidak bisa dibilang kaya maupun tampan. Secara fisik jalannya pincang (maaf- red) akibat serangan polio di masa kanak-kanak. SG juga hanya kerja serabutan hingga sulit masuk kategori orang kaya.

Meski begitu, kakek dua cucu ini mengarang cerita, dirinya korban rayuan SDR (13), murid kelas I SMP yang merupakan tetangga dekatnya.

Akibat rayuan itu, SG berulangkali menyetubuhi SDR. Kasus itu baru terungkap setelah pekan lalu, SDR melahirkan bayi laki-laki sehat seberat 2,7 Kg dengan panjang 48 Cm di rumah seorang bidan.

Di hari Minggu sepulang tamasya, dia (SDR) mampir ke rumah mengajak bersetubuh sambil pegang-pegang kemaluan saya,” tutur SG sebelum pers release di aula Mapolres Wonogiri, Selasa (13/2/2018).

Saat bertutur itu, SG tak menunjukkan penyesalan. Dengan lancar dia mengatakan seolah persetubuhan dengan SDR yang berjalan sejak awal 2017 hingga 2018 itu, sebagai keterpaksaan demi meladeni rayuan SDR. 

Namun keterangan saksi-saksi dan hasil olah TKP berkata lain. Persetubuhan SG dengan SDR berawal di hari Minggu siang, ketika SDR sedang belajar di kamarnya. Kebetulan kamar sekaligus ruang belajar SDR terhubung dengan pintu belakang.

Siang itu SG menyusup masuk kamar lewat pintu belakang. Lantas SG membekap mulut SDR dan menyeretnya ke tempat tidur. Dia memaksa menyetubuhi SDR dengan mengancam akan membunuhnya, jika SDR menceritakan hal itu kepada orang lain.

SG mengancam akan membunuh SDR jika buka mulut,” terang Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Tidak hanya sekali. SG mengulangi aksi bejadnya hingga sekitar 10 kali. Lima kali di tempat tidur SDR dan lima kali di kebun belakang rumah. Aksi itu berjalan lancar karena saat siang hari, SDR sendirian di rumah. Ibunya telah meninggal. Sedang ayahnya menikah lagi dan tinggal di tempat lain.

Pada malam hari SDR tidur di rumah neneknya yang masih satu pekarangan dengan rumah peninggalan orang tuanya.

Pelaku sering memberikan keterangan berubah-ubah dan menunjukkan kebohongan. Dia kami jerat dengan pasal 81 UU perlindungan perempuan dan anak nomor 17 tahun 2016 dengan acaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” kata Kapolres Wonogiri.